Thursday, 19 April 2012

ISLAM DITINDAS! JANGAN HANYA DIAM!

>ADILKAH BAGI MUSLIM JIKA....




Terbitnya kenyataan akhbar..,fakta yang ditulis oleh individu itu dipercayai,digempar gempurkan dan disebarkan bulat-bulat.

TETAPI..

AlQuran yang diwahyukan Allah itu dpersoalkan firmannya..dibakar..malah dihina..




Seorang Yahudi yang memelihara janggut dan jambangnya akan dianggap patuh mengamalkan ajaran agama mereka.

TETAPI...


Jika seorang Muslim yang memelihara janggutnya untuk mengikuti sunnah yang diajarkan agamanya..,Dia akan dianggap pengganas,seorang ekstremis dan berimej teroris!



Seorang wanita di barat khususnya yang menjadi suri rumah sepanjang masa untuk menjaga anak2 nya dan menguruskan keluarganya setiap masa dianggap sebagai ibu mithali dan disayangi masyarakat..

TETAPI...



Jika seorang wanita Islam yang melakukan perkara yang sama yang berniat untuk menjaga hal ehwal keluarganya,Islam yang dituduh menindas dan mengongkong mereka!





Pelajar kampus boleh memakai fesyen yang disukainya untuk pergi ke kolej tanpa menghiraukan fesyen itu menjolok mata atau tidak*di barat khususnya*.pentadbiran universiti pasti akan membenarkannya kerana hak setiap individu yang bebas berpakaian mengikut citarasa mereka.

TETAPI...



Jika seorang wanita Islam datang ke kampus dengan mengamalkan garisan syarak agama untuk pemakaiannya..,dia akan di'banned' daripada terus mengikuti pengajian hanya kerana mempraktikkan pemakaian Islam yang dituntut dan dianggap berimej ekstremis!



Seseorang dari agama lain membunuh..,menghancurkan negara lain,mahupun menindas mereka,agama anutan mereka tidak dipertikaikan mahupun dipersalahkan..

TETAPI..



Jika seorang Islam yang membuat jenayah atau kesalahan..''ISLAM lah yang salah!ISLAM yang membuat jenayah!''




Seorang watak hero yang berjuang untuk menyelamatkan orang lain,dia akan dihormati dan dijulang habis habisan

TETAPI..




Jika seorang warga Palestin yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan keluarganya dan anak2 nya yang masih kecil,isteri dan anaknya diperkosa...rumahnya diranapkan..masjidnya dirempuh jentera dan sekaligus dia digelar pengganas dan teroris!



Sebarkan mesej ini kepada sesiapa sahaja untuk menyanggah diskriminasi terhadap umat Islam..ayuh,bangkitlah semua..sanggupkah anda untuk terus berpeluk tubuh,melihat dan berdiam diri sahaja..??


PILIHAN DI TANGAN ANDA.....



Akhir zaman, Islam Ditindas Tiada Siapa Peduli


 

Engkau bumi persinggahan,
Para nabi dan anbiya’,
Sinar satu perjuangan,
Qalam Rabbul Alamin,
Aduh…si Palestin,
Malang dikau di kala ini,
Darah mu tertumpah sepanjang hari,
Makanan mortar laknatullah si yahudi,
Adalah anak-anak kecil tak mengerti,
Aduh…si Palestin,
Malang juga dikau di kala ini,
Dayusnya saudara seaqidah mu sendiri,
Berpeluk tubuh hanya memerhati,
Mempertahankan kepentingan duniawi,
Sedarlah pemuda gentar ku,
Bebaskan diri dari jerangkap hedonisme,
Kerana tiada senang si durjana yahudi,
Selagi kau tak mengikut jalan syaitani,
Bangunlah pemuda gentar ku,
Perjuangkan kebenaran Illahi,
Walaupun tak setanding Salahuddin Al Ayubi,
Cukuplah walau sekecil-kecil tarbiyyah diri,
…kerana engkau umpama gergasi yang sedang enak dibuai mimpi,
…menunggu masa untuk dibangkiti
P/S : Dimanakah tanggungjawab musliman untuk berjihad………..tidakkah masih tidur dibuai mimpi hanyut dalam era keduniaan dan memetingkan diri sendiri demi kekayaan dunia!!!!! Seandainya Nabi Muhammad s.a.w, pasti baginda amat sedih dan kesal atas keganasan Israel keatas dunia Islam hari ini dan kita sebagai sebuah negara Islam (Asia Barat Utamanya) gagal melaksanakan tanggungjawab untuk berjihad dijalan Allah. Semoga Allah memberi kekuatan keatas pejuang mujahid untuk membela tanahair mereka.
Note : Where are your responsible for your muslim family, are you still sleeping when this were happened to world of Islam? The truth is all muslim around the world is no courage to against the terrorist of israel. If our prophet see this, believe he will cry because of his muslim family were dying without no body care neither muslim country or no.

Sistem Pemerintahan Islam Berbeza dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini








Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia; baik dari segi asas yang mendasarinya; dari segi pemikiran, pemahaman, maqâyîs (standar), dan hukum-hukumnya untuk mengatur berbagai urusan; dari segi konstitusi dan undang-undangnya yang dilegislasi untuk diimplementasikan dan diterapkan; ataupun dari segi bentuknya yang mencerminkan Daulah Islam sekaligus yang membedakannya dari semua bentuk pemerintahan yang ada di dunia ini. Hal ini karena:
Sistem pemerintahan Islam bukan sistem kerajaan. Islam tidak mengakui sistem kerajaan. Sistem pemerintahan Islam juga tidak menyerupai sistem kerajaan. Hal itu karena dalam sistem kerajaan, seorang anak (putra mahkota) menjadi raja karena pewarisan; umat tidak ada hubungannya dengan pengangkatan raja. Adapun dalam sistem Khilafah tidak ada pewarisan. Akan tetapi, baiat dari umatlah yang menjadi metode untuk mengangkat khalifah.
Sistem kerajaan juga memberikan keistimewaan dan hak-hak khusus kepada raja yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari individu rakyat. Hal itu menjadikan raja berada di atas undang-undang dan menjadikannya simbol bagi rakyat, yakni ia menjabat sebagai raja tetapi tidak memerintah, seperti yang ada dalam beberapa sistem kerajaan; atau ia menduduki jabatan raja sekaligus memerintah untuk  mengatur negeri dan penduduknya sesuai dengan keinginan dan kehendak hawa nafsunya, sebagaimana yang ada dalam beberapa sistem kerajaan yang lain. Raja tetap tidak tersentuh hukum meskipun ia berbuat buruk atau zalim. Sebaliknya, dalam sistem Khilafah, Khalifah tidak diberi kekhususan dengan keistimewaan yang menjadikannya berada di atas rakyat sebagaimana seorang raja.  Khalifah juga tidak diberi kekhususan dengan hak-hak khusus yang mengistimewakannya—di hadapan pengadilan—dari individu-individu umat.
Khalifah juga bukanlah simbol umat dalam pengertian seperti raja dalam sistem kerajaan. Akan tetapi, Khalifah merupakan wakil umat dalam menjalankan pemerintahan dan kekuasaan. Ia dipilih dan dibaiat oleh umat untuk menerapkan hukum-hukum syariah atas mereka. Khalifah terikat dengan hukum-hukum syariah dalam seluruh tindakan, kebijakan, keputusan hukum, serta pengaturannya atas urusan-urusan dan kemaslahatan umat.
Sistem pemerintahan Islam juga bukan merupakan sistem imperium (kekaisaran).  Sebab, sesungguhnya sistem imperium itu sangat jauh dari Islam. Berbagai wilayah yang diperintah oleh Islam—meskipun penduduknya berbeda-beda suku dan warna kulitnya, yang semuanya kembali ke satu pusat—tidak diperintah dengan sistem imperium, tetapi dengan sistem yang bertentangan dengan sistem imperium. Sebab, sistem imperium tidak menyamakan pemerintahan di antara suku-suku di wilayah-wilayah dalam imperium. Akan tetapi, sistem imperium memberikan keistimewaan kepada pemerintahan pusat imperium; baik dalam hal pemerintahan, harta, maupun perekonomian.
Metode Islam dalam memerintah adalah menyamakan seluruh orang yang diperintah di seluruh wilayah negara. Islam menolak berbagai sentimen primordial (‘ashbiyât al-jinsiyyah). Islam memberikan berbagai hak pelayanan dan kewajiban-kewajiban kepada non-Muslim yang memiliki kewarganegaraan sesuai dengan hukum syariah. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum Muslim secara adil. Bahkan lebih dari itu, Islam tidak menetapkan bagi seorang pun di antara rakyat di hadapan pengadilan—apapun mazhabnya—sejumlah hak istimewa yang tidak diberikan kepada orang lain, meskipun ia seorang Muslim. Sistem pemerintahan Islam, dengan adanya kesetaraan ini, jelas berbeda dari imperium.
Dengan sistem demikian, Islam tidak menjadikan berbagai wilayah kekuasaan dalam negara sebagai wilayah jajahan, bukan sebagai wilayah yang dieksploitasi, dan bukan pula sebagai “tambang” yang dikuras untuk kepentingan pusat saja. Akan tetapi, Islam menjadikan semua wilayah kekuasaan negara sebagai satu-kesatuan meskipun jaraknya saling berjauhan dan penduduknya berbeda-beda suku. Semua wilayah dianggap sebagai bagian integral dari tubuh negara.  Seluruh penduduk wilayah memiliki hak seperti penduduk pusat atau wilayah lainnya. Islam menetapkan kekuasaan, sistem, dan peraturan pemerintahan adalah satu untuk semua wilayah.
Sistem pemerintahan Islam bukan sistem federasi. Dalam sistem federasi, wilayah-wilayah negara terpisah satu sama lain dengan memiliki kemerdekaan sendiri, dan mereka dipersatukan dalam masalah pemerintahan (hukum) yang bersifat umum. Sistem pemerintahan Islam adalah sistem kesatuan. Dalam sistem pemerintahan Islam, Marokes di barat dan Khurasan di timur dinilai sebagaimana Propinsi al-Fiyum jika ibukota negaranya di Kairo. Keuangan seluruh wilayah (propinsi) dianggap sebagai satu-kesatuan dan APBN-nya juga satu, yang dibelanjakan untuk kemaslahatan seluruh rakyat tanpa memandang propinsinya. Seandainya suatu propinsi pemasukannya tidak mencukupi kebutuhannya, maka propinsi itu dibiayai sesuai dengan kebutuhannya, bukan menurut pemasukannya. Seandainya pemasukan suatu propinsi tidak mencukupi kebutuhannya maka hal itu tidak diperhatikan, tetapi akan dikeluarkan biaya dari APBN sesuai dengan kebutuhan propinsi itu, baik pemasukannya mencukupi kebutuhannya ataupun tidak.
Sistem pemerintahan Islam bukan sistem republik. Sistem republik pertama kali tumbuh sebagai reaksi praktis terhadap penindasan sistem kerajaan (monarki). Sebabnya, raja memiliki kedaulatan dan kekuasaan sehingga ia memerintah dan bertindak atas negeri dan penduduk sesuai dengan kehendak dan keinginannya. Rajalah yang menetapkan undang-undang menurut keinginannya. Lalu datanglah sistem republik, kemudian kedaulatan dan kekuasaan dipindahkan kepada rakyat dalam apa yang disebut dengan demokrasi. Rakyatlah yang kemudian membuat undang-undang; yang  menetapkan halal dan haram, terpuji dan tercela. Lalu pemerintahan berada di tangan presiden dan para menterinya dalam sistem republik presidentil dan di tangan kabinet dalam sistem republik parlementer. (Contohnya—menyangkut pemerintahan di tangan kabinet—ada di dalam sistem monarki yang kekuasaan pemerintahannya dicabut dari tangan raja;  ia hanya menjadi simbol: ia menjabat raja, tetapi tidak memerintah).
Adapun dalam Islam, kewenangan untuk melakukan legislasi (menetapkan hukum) tidak di tangan rakyat, tetapi ada pada Allah. Tidak seorang pun selain Allah dibenarkan menentukan halal dan haram.  Dalam Islam, menjadikan kewenangan untuk membuat hukum berada di tangan manusia merupakan kejahatan besar.  Allah SWT berfirman:

Mereka telah menjadikan para pembesar mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.
 (QS at-Taubah [9]: 31).

Ketika turun ayat di atas, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa sesungguhnya para pembesar dan para rahib telah membuat hukum, karena mereka telah menetapkan status halal dan haram bagi masyarakat, lalu mayarakat menaati mereka. Sikap demikian dianggap sama dengan menjadikan para pembesar dan para rahib itu sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Demikian sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw. ketika menjelaskan maksud ayat tersebut. Penjelasan Rasul mengenai maksud ayat tersebut menunjukkan betapa besarnya kejahatan orang yang menetapkan halal dan haram selain Allah.  Imam at-Tirmidzi telah mengeluarkan hadis dari jalan Adi bin Hatim yang  berkata:

Aku pernah datang kepada Nabi saw., sementara di leherku bergantung salib yang terbuat dari emas.  Nabi saw. lalu bersabda, “Wahai Adi, campakkan berhala itu dari tubuhmu!” Aku lalu mendengar Beliau membaca al-Quran surat at-Taubah ayat 31 (yang artinya):  Mereka menjadikan para pembesar dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.  Nabi saw. kemudian bersabda, “Benar, mereka tidak menyembah para pembesar dan para rahib itu. Akan tetapi, ketika para pembesar dan para rahib itu menghalalkan sesuatu bagi mereka,  mereka pun menghalalkannya, dan jika para pembesar dan para rahib itu mengharamkan sesuatu, mereka pun mengharamkannya.” (HR at-Tirmidzi).

Pemerintahan dalam Islam juga tidak dengan metode kabinet, yang mana setiap departemen memiliki kekuasaan, wewenang, dan anggaran yang terpisah satu sama lain; ada yang lebih banyak dan ada yang lebih sedikit.  Keuntungan satu departemen tidak akan ditransfer ke departemen lain kecuali dengan mekanisme yang panjang. Hal ini mengakibatkan banyaknya hambatan untuk mengatasi berbagai kepentingan rakyat, karena banyaknya intervensi dari beberapa departemen hanya untuk mengurus satu kemaslahatan rakyat saja. Padahal seharusnya berbagai kemaslahatan rakyat itu dapat ditangani oleh satu struktur administrasi saja.
Dalam sistem republik, pemerintahan didistribusikan di antara departemen yang disatukan dalam kabinet yang memegang kekuasaan secara kolektif. Dalam Islam tidak terdapat departemen yang memiliki kekuasaan pemerintahan secara keseluruhan (menurut bentuk demokrasi). Akan tetapi, Khalifah dibaiat oleh umat untuk memerintah mereka menurut Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Khalifah berhak menunjuk para mu‘âwin (wazîr tafwîdh) untuk membantunya mengemban tanggung jawab kekhilafahan. Mereka adalah para wazîr—dalam makna bahasa—yaitu para pembantu (mu‘âwin) Khalifah dalam masalah-masalah yang ditentukan oleh Khalifah.
Sistem pemerintahan Islam bukan sistem demokrasi menurut pengertian hakiki demokrasi ini, baik dari segi bahwa kekuasaan membuat hukum—menetapkan halal dan haram, terpuji dan tercela—ada di tangan rakyat maupun dari segi tidak adanya keterikatan dengan hukum-hukum syariah dengan dalih kebebasan. Orang-orang kafir memahami betul bahwa kaum Muslim tidak akan pernah menerima demokrasi dengan pengertiannya yang hakiki itu. Oleh karena itu, negara-negara kafir penjajah (khususnya AS saat ini) berusaha memasarkan demokrasi di negeri-negeri kaum Muslim. Mereka berupaya memasukkan demokrasi itu ke tengah-tengah kaum Muslim melalui upaya penyesatan (tadhlîl), bahwa demokrasi merupakan alat untuk memilih penguasa.
Anda bisa melihat, mereka mampu menghancurkan perasaan kaum Muslim dengan seruan demokrasi itu, dengan memfokuskan pada seruan demokrasi sebagai pemilihan penguasa. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang menyesatkan kepada kaum Muslim, yakni seakan-akan perkara yang paling mendasar dalam demokrasi adalah pemilihan penguasa.  Karena negeri-negeri kaum Muslim saat ini sedang ditimpa penindasan, kezaliman, pembungkaman, dan tindakan represif penguasa diktator, baik mereka berada dalam sistem yang disebut kerajaan ataupun republlik; sekali lagi kami katakan, karena negeri-negeri Islam mengalami semua kesengsaraan tersebut maka kaum kafir dengan mudah memasarkan demokrasi di negeri-negeri kaum Muslim sebagai aktivitas memilih penguasa.
Mereka berupaya menutupi dan melipat bagian mendasar dari demokrasi itu sendiri, yaitu tindakan menjadikan kewenangan membuat hukum serta menetapkan halal dan haram berada di tangan manusia, bukan di tangan Tuhan manusia. Bahkan sebagian aktivis Islam, termasuk di antaranya adalah para syaikh (guru besar), mengambil tipuan itu; baik dengan niat yang baik maupun buruk. Jika Anda bertanya kepada mereka tentang demokrasi, mereka menjawab bahwa demokrasi hukumnya boleh dengan anggapan, demokrasi adalah memilih penguasa. Adapun mereka yang memiliki niat buruk berupaya menutupi, melipat, dan menjauhkan pengertian hakiki demokrasi sebagaimana yang ditetapkan oleh penggagas demokrasi itu sendiri.
Menurut mereka, demokrasi bermakna: kedaulatan ada di tangan rakyat—yang berwenang membuat  hukum sesuai dengan kehendak mereka berdasarkan suara mayoritas, menghalalkan dan mengharamkan, serta menetapkan status terpuji dan tercela; individu memiliki kebebasan dalam segala perilakunya—bebas berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya, bebas meminum khamr, berzina, murtad, serta mencela dan mencaci hal-hal yang disucikan dengan dalih demokrasi dan kebebasan individual. Inilah hakikat demokrasi. Inilah realita, makna, dan pengertian demokrasi. Lalu bagaimana bisa seorang Muslim yang mengimani Islam mengatakan bahwa demokrasi hukumnya boleh atau bahwa demokrasi itu berasal dari Islam?
Adapun masalah umat memilih penguasa atau memilih Khalifah, hal itu merupakan perkara yang telah dinyatakan di dalam nash-nash syariah. Kedaulatan di dalam Islam ada di tangan syariah. Akan tetapi, baiat dari rakyat kepada Khalifah merupakan syarat mendasar agar seseorang menjadi khalifah. Sungguh, pemilihan Khalifah telah dilaksanakan secara praktis di dalam Islam pada saat seluruh dunia masih hidup di bawah kegelapan, kediktatoran, dan kezaliman para raja. 
Siapa yang mendalami tatacara pemilihan Khulafaur Rasyidin—Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib; semoga Allah meridhai mereka—maka ia akan dapat melihat dengan jelas bagaimana dulu telah sempurnanya pembaiatan kepada para khalifah itu oleh ahl al-halli wa al-‘aqdi dan para wakil kaum Muslim.
Dengan baiat itu, masing-masing dari mereka menjadi khalifah yang ditaati oleh kaum Muslim. Abdurrahman bin Auf, yang kala itu telah diangkat menjadi wakil atas sepengetahuan pendapat mereka yang menjadi representasi kaum Muslim (mereka adalah penduduk Madinah), telah berkeliling di tengah-tengah mereka; ia bertanya kapada si anu dan si anu, mendatangi rumah ini dan itu, serta menanyai laki-laki dan perempuan untuk melihat siapa di antara para calon khalifah yang ada, yang mereka pilih untuk menduduki jabatan khalifah. Pada akhirnya, pendapat orang-orang mantap ditujukan kepada Utsman bin Affan, lalu dilangsungkanlah baiat secara sempurna kepadanya.
Ringkasnya, sesungguhnya demokrasi adalah sistem kufur; bukan karena demokrasi mengatakan tentang pemilihan penguasa, dan hal itu juga bukan menjadi masalah mendasar, tetapi karena perkara mendasar dalam demokrasi adalah menjadikan kewenangan untuk membuat hukum berada di tangan manusia,  bukan pada Allah, Tuhan alam semesta.  Padahal Allah SWT berfirman:

Menetapkan hukum itu hanyalah milik Allah. (QS Yusuf [10]: 40).

Demi Tuhanmu, mereka hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya. (QS an-Nisa’ [4]: 65).

Terdapat banyak dalil (selain ayat-ayat di atas, ed.) yang saling mendukung, yang sudah diketahui bersama, yang menyatakan bahwa kewenangan menetapkan hukum adalah milik Allah SWT.
Apalagi demokrasi juga menetapkan kebebasan pribadi (personal freedom), yang menjadikan laki-laki dan perempuan bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa memperhatikan halal dan haram. Demokrasi juga menetapkan kebebasan beragama (freedom of religion), di antaranya berupa kebebasan untuk murtad dan gonta-ganti agama tanpa ikatan.  Demokrasi juga menetapkan kebebasan kepemilikan (freedom of ownership), yang menjadikan pihak yang kuat mengeksploitasi pihak yang lemah dengan berbagai sarana sehingga yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Demokrasi pun menetapkan kebebasan berpendapat (freedom of opinion), bukan kebebasan dalam mengatakan yang haq, tetapi kebebasan dalam mengatakan hal-hal yang menentang berbagai kesucian yang ada di tengah-tengah umat. Bahkan mereka menganggap orang-orang yang berani menyerang Islam di bawah slogan kebebasan berpendapat sebagai bagian dari para pakar opini yang sering disebut sebagai para pahlawan.
Atas dasar ini, sistem pemerintahan Islam (Khilafah) bukan sistem kerajaan, bukan imperium, bukan federasi, bukan republik, dan bukan pula sistem demokrasi sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya.

PERKEMBANGAN ILMU SAINS DAN TEKNOLOGI TAMADUN CHINA


Ciri tamadun Cina yang paling menonjol ialah kepantasan kemajuan teknologinya . Ini turut diakui oleh beberapa orang pengarang terkenal dari Barat.

Antara kemajuan-kemajuan yang dicapai ialah:

1. Perpustakaan yang besar telah wujud semenjak zaman berzaman.
2. Alat cetak yang boleh bergerak telah direka dalam abad kesebelas, justeru itu lahirlah buku-buku dalam jumlah yang besar.
3. Perdagangan dan perindustrian yang digiatkan oleh pembinaan terusan dan desakan penduduk juga mencapai tahap yang tinggi. Kompas bermagnet juga dalah satu lagi ciptaan orang-orang Cina yang digunakan hingga kini.
4. Bandar raya China lebih besar daripada kebanyakan bandar-bandar Eropah pada zaman Pertengahan, sementara laluan perdagangannya pula luas. Pembinaan semula Tembok Besar China dan terusan-terusan mengikut nasihat pihak birokrasi yang dikemukakan kepada Maharaja. Ia dianggap penting demi faedah negara.
5. Wang kertas mempercepatkan aliran perniagaan dan pertumbuhan pasaran pada peringkat permulaan.
6. Wujud industri besi yang sangat besar di China Utara, menghasilkan kira-kira 125 000 tan setahun kebanyakannya untuk kegunaan kerajaan dan tentera.
7. Bangsa China juga barangkali menjadi bangsa yang pertama mencipta serbuk letupan dan meriam yang telah digunakan untuk menggulingkan pemerintah-pemerintah Mongol oleh Dinasti Ming pada penghujung abad keempat belas. Dalam tahun 1720, rekod menunjukkan bahawa Dinasti Ming memiliki sebanyak 1350 buah kapal perang, termasuk 400 buah kubu terapung yang besar dan 250 buah kapal yang dibina khas untuk pelayaran jarak jauh. Kekuatan ini termasuk kapal-kapal persendirian yang banyak dan yang mengadakan perdagangan dengan Korea, Jepun, Asia Tenggara bahkan Afrika Timur pada masa itu. Ini memberi hasil kepada kerajaan China yang telah mengenakan cukai terhadap perniagaan laut tersebut.


RUJUKAN
1. Lok Chong Hoe, Tamadun Cina,Falsafah , Pandangan Hidup dan Aspek-aspek Kesenian, Pulau Pinang, USM, 1998. 

2. Joseph Needham,Science and Civilization in China, Cambridge , Cambridge University Press,1954.

 


MATEMATIK


Pengenalan 

Sarjana-sarjana Islam telah memberi sumbangan yang amat besar dan bermakna di dalam bidang perkembangan ilmu matematik. Mereka banyak mencipta perkara-perkara baru yang menjadi ilmu matematik lebih mudah dipelajari. Salah satu sumbangan paling besar sarjana Islam di dalam bidang ini ialah memperkenalkan sistem angka baru, termasuklah angka sifar. Sistem angka mula diperkenalkan ke Arab oleh sarjana India bernama Sinhid. Sistem nombor ini telah memainkan peranan yang begitu besar dalam bidang matematik. Tanpa sistem nombor dan angka adalah amat sukar bagi manusia untuk menentukan kuantiti yang difikirkan atau yang diperlukan untuk penjumlahan. 

Firman Allah
Dan mereka telah tinggal tidur dalam gua mereka: Tiga ratus tahun dengan kiraan Ahli Kitab), dan sembilan lagi (dengan kiraan kamu). (Surah Al-Kahfi : 25) 
Ini semua membuktikan bahawa ilmu Sains dan juga Ilmu Hisab sudah ada di dalam Quran, walaupun ianya di turunkan 1400 tahun yang lalu, tetapi apa yang patut kita sematkan dalam hati kita, Kitab Quran bukanlah kitab Sains, Ilmu Hisab atau Sejarah tetapi ianya adalah kitab pedoman kepada umat Islam dalam mengecapi kesejahteraan di dunia dan juga akhirat jika beramal dengannya. 


Tokoh Matematik

1. Al-Khawarizmi 

Nama sebenar beliau ialah Mohammad Bin Musa Al-Khawarizmi (Meninggal 840 M). Beliau dikenali di Barat dengan nama Algorizm, Gelaran Al Khawarizmi diberi kepada beliau sempena tempat kelahirannya di Khawarizm..beliau amat terkenal dalam bidang ilmu matematik. Beliau adalah pengasas kepada ilmu algebra, malah nama algebra diambil bersempena dengan nama buku beliau Al-Jabr wal-Muqabilah.

Dalam bidang trigonometri, beliau mengetengahkan konsep sinus (sine) yang kemudiannya diperkembangkan kepada tangen. Konsep algoritma yang dinamakan mengikut namanya juga diasaskan oleh Khwarizmi. 

Beliau sebenarnya merupakan pengasas kepada beberapa cabang dan konsep asas matematik. Hasil kerjanya dalam algebra begitu cemerlang dan beliau tidak hanya mempunyai inisiatif terhadap subjek dalam pembentukan sistematik tetapi juga bertanggungjawab membangunkan penyelesaian analitikal dalam pengembangan garis lurus serta persamaan kuadratik.
Persamaan kuadratik ialah satu persamaan di mana kuasa kedua tanpa kuasa lebih tinggi digunakan bagi yang tidak diketahui (x2 + 2x - 8 = 0).
Kejayaan itu akhirnya menjadikannya pengasas Algebra. Nama Algebra diperoleh daripada bukunya yang terkenal iaitu Al-Jabrwa-al-Muqabilah. Beliau turut menjelaskan dengan teliti kegunaan sifar - iaitu sistem angka yang dibangunkan oleh orang Arab.
Pada masa yang sama, beliau membangunkan sistem perpuluhan dan dengan itu, keseluruhan sistem nombor angka, algorithm atau algorizm memperoleh nama selepas dibangunkan oleh orang Arab.

Dalam usahanya memperkenalkan sistem angka India (kini dikenali angka Arab), beliau telah membangunkan beberapa prosedur kira-kira termasuk operasi dan pecahan.

2. Umar al-Khayyam 
telah memajukan lagi pengetahuan penemuan al-Khawarizmi dalam memuatkan pecahan-pecahan, persamaan geometrik dan algebra serta klasifikasi tentang persamaan. Proses mengkaitkan aljabar dengan Geometri telah pun dapat dilihat dengan jelasnya dalam penulisan al-Khawarizmi. Geometri analisis memerlukan tiga peringkat perkembangan iaitu penemuan sistem koordinat, mencantumkan perhubungan antara satu sama lain dalam kaedah aljabar dengan geometri, dan akhirnya menyatakan hubungan dalam bentuk geraf. 

3. Al Bironi dan Trigonometri 
Beliau menetapkan panjang sendeng bulatan1/10 lalu menentukan kosain dan seterusnya menjelaskan sendeng yang baki. Beliau juga mencipta kaedah untuk mengira ukur lilit bumi yang dinamakan kaedah Al Bironi.

KESENIAN DAN KALIGRAFI TAMADUN CHINA

Menurut Michael Sullivan, manusia boleh mendekati sesuatu tamadun melalui bentuk-bentuk seninya kerana sebahagian daripada reaksi manusia terhadap objek-objek seni adalah secara serta merta.Perkara yang ditegaskan oleh Sullivan ialah karya-karya seni Cina mungkin boleh memberi suatu gambaran tentang nilai-nilai estetika dan juga beberapa aspek kepercayaan masyarakat Cina.

Contohnya: Fahaman Daoisme mempunyai pengaruh kuat terhadap bentuk-bentuk seni Cina terutama seni catan dan kaligrafi dan ia menentukan sifat-sifat yang dianggap penting dalam kesenian tersebut.Ini jelas kerana seorang seniman Cina bertujuan menyelaraskan kegiatan penghasilan sesebuah hasil seni catan dengan prinsip-prinsip atau proses alam semesta.
Menurut fahaman ini, manusia boleh melakukan perbuatan dan kegiatan yang bersifat semulajadi dan spontan melalui proses pelukisan gambar kerana ianya satu cara bagi mengharmonikan diri dengan proses alam semesta.

Dalam catan lanskap Cina tradisional, elemen-elemen yang dilukis untuk mewakili alam semesta seperti gunung tinggi yang dipenuhi pokok-pokok , bukit-bukit dan air terjun, pokok-pokok kecil yang rimbun ,air sungai dan tasik dan lain-lain lagi. Manusia boleh timbul dalam catan lanskap tersebut tetapi merupakan bentuk-bentuk yang kecil kerana menurut Daoisme, manusia cuma sebagai elemen yang kecil dalam dunia alam semesta yang amat luas dan besar ini.

Manakala kemahiran-kemahiran yang digunakan dalam tulisan kaligrafi atau huruf Cina, diaplikasikan oleh seniman-seniman Cina kepada penghasilan gerakan -gerakan berus yang terdapat dalam kaligrafi atau huruf Cina yang terdapat dalam sebuah lukisan ( catan) yang berjaya.

Kebolehan untuk menghasilkan imej-imej yang mempunyai ” imbangan, gerakan dan bentuk-bentuk yang betul” boleh diperolehi melalui latihan-latihan kaligrafi atau tulisan huruf Cina. 

Keadaan ini juga sama dengan sebuah pantun atau puisi Cina kerana disamping ia disampaikan dengan tulisan-tulisan yang yang cantik, ia juga dihargai oleh masyarakat Cina kerana ia dapat menimbulkan perasaan dan maksud-maksud tertentu seperti nasihat .
Kesenian Seramik

Seramik dan tembikar juga merupakan seni Cina yang popular dan terkenal kerana kebanyakan tamadun merujuk tembikar sebagai “China”.

Terdapat dua jenis seramik yang menarik sekali dari segi estetikanya iaitu:
1- Seramik Seladon ( celadonware) yang berasal dari Dinasti Sung.
2- Tembikar biru-putih ( blue- and white porcelain) yang berasal dari Dinasti Yuan (Mongol) dan Dinasti Ming.
“Seladon” ialah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan seramik yang mempunyai lapisan kaca berwarna biru hijau atau kelabu hijau serta menyerupai batu permata jed. Ianya amat disukai oleh kelas sarjana-pentadbir di negeri China.

Batu Jed bagi orang Cina melambangkan kebaikan, keluhuran budi pekerti, kemuliaan dan keindahan. Ia merupakan perhiasan yang paling digemari bukan kerana nilai harganya yang tinggi tetapi dipercayai dapat melanjutkan usia dan membawa kesejahteraan hidup kepada pemakainya. Ia juga dikenali sebagai batu azimat.

Tembikar biru-putih ( blue-and - white porcelain) berasal di negeri China pada Dinasti Yuan pada abad ke 13. Ia merupakan tembikar yang sebenar kerana pakar-pakar dari Barat berpendapat bahawa tukang labu Cina menunjukkan kemahiran yang paling tinggi apabila mereka mencipta tembikar (sejenis seramik) yang keras, putih dan juga lutcahaya. Ini merupakan satu revolusi dalam citarasa masyarakat Cina.

RUJUKAN
1. Lok Chong Hoe, Tamadun Cina,Falsafah , Pandangan Hidup dan Aspek-aspek Kesenian, Pulau Pinang, USM, 1998. 

2. Joseph Needham,Science and Civilization in China, Cambridge , Cambridge University Press,1954.

KEMUNCULAN TAMADUN CINA

Gambaran mengenai kemunculannya adalah tidak jelas kerana ia berdasarkan cerita-cerita mitos yang penuh khayalan. Ada juga ahli-ahli sejarah berpendapat bahawa sebelum wujudnya Zaman Dinasti, China diperintah oleh lima orang pendeta. Mereka inilah yang mengasaskan peradaban/tamadun Cina.
Sepanjang sejarah negeri China, setiap dinasti berkembang, runtuh dan kemudian digantikan oleh suatu dinasti yang lain.

1. Dinasti Hsia ( 2697 SM)Raja terawal dipercayai Raja Huang Ti dan salah seorang keturunannya iaitu Raja Yu telah mengasaskan dinasti ini. Walaupun ianya kurang jelas kerana tiada kesan-kesan yang ditemui tetapi bagi orang Cina ianya tetap wujud.

2. Dinasti Shang (1766-1122 SM)
Berpusat di Anyang dan dinasti ini adalah lebih jelas dengan penemuan alat-alat dan tulang manusia yang banyak di sekitar kawasan utara Sungai Kuning.

3. Dinasti Chou ( 1122- 256 SM)Terbahagi kepada dua iaitu Chou Awal ( 1122-771 SM) berpusat di Lembah Wei yang dipanggil Kanshu kini.Chou Akhir(771-256 SM) pusat pentadbirannya ke Loyang. China mencapai zaman keagungannya dalam bidang ekonomi, politik dan sosial.

4. Dinasti Chin ( 256-205 SM)Pusat pentadbirannya di Lembah Wei di bawah Maharaja Shin Hung Ti(221-210S M) merupakan raja Dinasti Chin yang teragung . Beliau memerintah selama 11 tahun dengan menggunakan kekerasan dan undang-undang yang ketat . Ini merupakan zaman penyatuan kembali negeri China.Tembok Besar China dibina pada zaman ini sejauh 2256 KM untuk menghalang serangan puak-puak liar dari Mongolia. Ianya telah diceritakan telah menyebabkan kira-kira satu juta mati orang akibat iklim yang sejuk.

5. Dinasti Han ( 202 SM -221 M)Salah seorang raja yang terkenal ialah Han Wu Ti ( 141-87 SM) yang merupakan zaman perkembangan kesenian dan kesusasteraan. Ketika ini juga telah wujud jalan darat yang menghubungkan China dengan Asia Barat dan kawasan sekitar Laut Mediterranean dan jalan ini dipanggil Jalan Sutera kerana melalui jalan-jalan inilah sutera-sutera dari China di bawa ke Barat.

6. Dinasti Sui ( 589- 618 M)Diasaskan oleh Sui Wen Ti tetapi penggantinya Yuang Ti lebih mementingkan kemewahan hidup yang membawa kepada pemberontakan oleh Li Yuen seorang pegawai yang berpengaruh di wilayah Shantung. Beliau berjaya menjatuhkan kerajaan Sui.

7. Dinasti Tang ( 618- 907 M)Selain Li Yuen, raja Tang yang terkenal ialah Tang Tai Tsung putera Li Yuen yang meluaskan kekuasaan China Parsi dan Laut Kaspian.

8. Dinasti Sung ( 960-975 M)
Seorang general bernama Chao Hung Yin berjaya mendirikan sebuah kerajaan yang kuat . Dinasti ini berkuasa selama kira-kira 300 tahun.

9. Dinasti Yuan / Mongol ( 1271-1368)Di bawah kepimpinan Kublai Khan, kaum Mongol berjaya mengalahkan dinasti Sung dan mendirikan kerajaan baru. Peking dipilih sebagai pusat pemerintahan dan bermulanya era perhubungan dengan barat.

10. Dinasti Ming ( 1368-1644)Orang Cina merampas semula kekuasaan setelah kematian Kublai Khan. Seorang pemimpin bernama Chu Yuan Chang berjaya mengalahkan tentera Mongol.

11. Dinasti Ching /Manchu ( 1682-1911)Menjalankan dasar-dasar yang telah dijalankan oleh dinasti Ming dengan membenarkan saudagar-saudagar asing singgah di mana-mana pelabuhan untuk berniaga.

RUJUKAN 1. Lok Chong Hoe, Tamadun Cina, Falsafah, Pandangan Hidup dan Aspek-aspek Kesenian, Pulau Pinang, USM, 1998.

KEDATANGAN ISLAM DI ASIA TENGGARA


Kedatangan Islam di Asia Tenggara telah banyak dibicarakan, terutama oleh para sarjana Islam. Walaupun sampai sekarang masih wujud perselisihan pendapat antara satu dengan yang lainnya, namun sebagai perkenalan diringkaskan di bawah ini:
Banyak pendapat mengatakan Islam tersebar di Asia Tenggara sejak abad 11, 12 dan 13 M. Ada berpendapat bahawa pengislaman negeri Kelantan datangnya dari negeri Patani. Sejak akhir abad ke- 2 Hijrah atau abad ke-7 Masihi telah datang pedagang Arab ke Patani yang kemudian terjadi asimilasi perkahwinan dengan orang-orang Melayu, dan dipercayai, sekali gus mereka menyebarkan Islam di pantai Timur Semenanjung Tanah Melayu.
PERTEMUAN
Dikatakan seorang bangsa Arab bernama Sheikh Ali Abdullah yang dahulunya tinggal di Patani, mengislamkan raja Kelantan. Pengakuan Perdana Menteri Kelantan, Haji Nik Mahmud Nik Ismail tentang pertemuan mata wang tahun 577 Hijrah atau 1181 Masihi, tulisan dengan angka Arab, juga tertulis dengan huruf Arab sebelah menyebelah mata wang itu masing-masing dengan Al-Julusul Kalantan dan Al-Mutawakkal ‘alallah.
Sekitar tahun 1150 Masihi, datang seorang Sheikh dari Patani menyebarkan Islam di Kelantan. Diriwayatkan pula oleh ulama Patani secara bersambung bahawa Islam masuk ke Patani dibawa oleh Sheikh Abdur Razaq dari Tanah Arab. Sebelum ke Patani, beliau tinggal di Aceh hampir 40 tahun.

Penyebaran Islam dari Timur Tengah ke Asia Tenggara
Selain itu, tulisan Arab telah lama digunakan sekali gus bersama tulisan Melayu/Jawi. Hal ini dibuktikan dengan mata wang yang digunakan di Patani. Sebelah hadapannya tertulis dengan bahasa Melayu, “Ini pitis belanja di dalam negeri Patani”, manakala di sebelah belakangnya dengan bahasa Arab yang jika diterjemahkan ertinya seperti di atas, tetapi di sebelah bahasa Arabnya ditambah dengan kalimat Sanah 1305.
Mata wang itu dibesarkan tiga kali ganda dari aslinya, maka sebelah yang bahasa Melayunya tertulis, “Duit ini untuk perbelanjaan dalam negeri Patani”, manakala sebelah bahasa Arabnya tertulis kata-kata ‘tahun Masihi 1305’. Tulisan Arab bahasa Melayu pada mata wang Patani tersebut tidak berjauhan tempoh jaraknya dengan Batu Bersurat yang terdapat di Kuala Berang, Terengganu yang bertahun 702 Hijrah atau 1303 Masihi atau 786 Hijrah atau 1398 Masihi.
Dikatakan Kedah menerima agama Islam dibawa oleh seorang mubaligh bernama Sheikh Abdullah bin Syeikh Ahmad bin Sheikh Ja’far Qaumiri dari negeri Syahrir, Yaman. Beliau sampai di Kedah pada tahun 531 Hijrah. Beliau berhasil mengislamkan Sri Paduka Maharaja dan menteri-menterinya.
Aceh termasuk negeri yang pertama diketemui oleh para pedagang Islam yang datang ke wilayah Nusantara tersebut. Di antara penyebar Islam yang terkenal bernama Sheikh Abdullah Arif (di abad ke 12M). Salah satu karya tasawufnya dalam bahasa Arab berjudul, Bahrul Lahut.
Dalam karya klasik karangan Tun Sri Lanang, dalam Sejarah Melayunya yang terkenal itu, bahawa beliau menceritakan kedatangan Sheikh Ismail yang berhasil mengislamkan seorang yang akhirnya terkenal dengan nama Sultan Malikush Shaleh.
Islam di Aceh sampai ke puncak kejayaannya di zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Melalui Aceh sehingga negeri Minangkabau menerima Islam, walaupun pada mulanya berjalan agak lambat lantaran pengaruh agama Hindu yang masih sangat menebal.
Pada tahun 1440 Masihi, Islam mulai bertapak di Palembang (Sumatera Selatan) yang disebarkan oleh Raden Rahmat. Di Leren Jawa diketemukan batu nisan seorang perempuan bernama Fathimah Maimun bertahun 495 Hijrah atau 1101 Masihi. Kira-kira tahun 1195 Masihi, Haji Purwa iaitu salah seorang putera Raja Pajajaran kembali dari pengembaraannya, lantas mengajak semua keluarga kerajaan supaya memeluk agama Islam. Namun usaha beliau itu gagal.
Para penyebar Islam di Pulau Jawa memuncak tinggi dengan sebutan Wali Songo/ Wali Sembilannya, yang terkenal di antara penyebar itu seumpama Maulana Malik Ibrahim yang makamnya di Gersik tahun 1419 Masihi.
Pada abad ke-15 Masihi Islam berkembang di Maluku dengan pantas, terkenal penyebarnya bernama Sheikh Manshur yang berhasil mengislamkan Raja Tidore serta rakyat di bawah pemerintahannya.
Adapun Sulawesi berdasarkan buku Hikayat Tanah-Tanah Besar Melayu, tanpa nama pengarang, yang diterbitkan oleh Printed at the Government Printing Office, Singapore, Straits Settlement, 1875 dikatakan bahawa yang terakhir menerima Islam ialah bangsa Bugis. Barangkali lebih kurang tahun 1620 Masihi.
Tahun 1620 Masihi boleh disejajarkan dengan tahun kedatangan mubaligh-mubaligh penyebar Islam yang datang dari Minangkabau. Dato’ Ri Bandang (Khathib Tunggal Abdul Makmur) telah mengislamkan Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyore dan Raja Goa I Mangarangi Daeng Manrabia, yang memeluk agama Islam pada hari Jumaat 9 Jamadilawal 1015 Hijrah bersamaan 22 September 1605 Masihi.
Dato’ Ri Bandang dibantu oleh Raja Goa menyiarkan Islam di Wajo. Beliau meninggal dunia di Patimang negeri Luwu (Indonesia), maka terkenallah beliau dengan sebutan Dato’ Patimang. Penyiar Islam yang seorang lagi bernama Dato’ Ri Tiro.
Barangkali Islam masuk di Sulawesi lebih awal dari tahun tersebut di atas. Pada tahun 1412 Masihi, seorang ulama Patani pernah mengembara hingga ke Pulau Buton dengan tujuan menyiarkan agama Islam ke bahagian Timur. Raja Mulae i-Goa menyambut kedatangan ulama itu dengan berlapang dada.
Pada tahun 1564 Masihi, disusul oleh Sheikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman yang lama menetap di Johor lalu melanjutkan perjalanannya ke Pulau Buton. Walaupun beliau berasal dari Patani tetapi dikatakan masyarakat bahawa beliau adalah ulama Johor.
Seorang bangsa Portugis bernama Pinto pernah datang ke Sulawesi Selatan dalam tahun 1544 Masihi, beliau melaporkan bahawa di Sulawesi Selatan telah banyak pedagang Islam yang datangnya dari Johor, Patani dan Pahang.
Selanjutnya terjadi perkahwinan para pedagang yang beragama Islam itu dengan penduduk asli sehingga ramai rakyat memeluk agama Islam.
Pada tahun 1565-1590 Masihi, Raja Goa Tunijallo mendirikan sebuah masjid untuk pedagang Islam itu di sebuah kampong bernama Mangallekana berdekatan kota Makasar/Ujung Pandang (Indonesia).
Di dalam Hadiqatul Azhar, Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa Al-Fathani menyebut Islam masuk ke Sulawesi pada tahun 800 Hijrah, dan raja yang pertama Islam bernama Lamadasilah (La Meddusala).
Kalimantan (Indonesia) dikatakan menerima Islam pada abad ke 16M, Raja Banjar yang pertama memeluk agama Islam ialah Raden Samudera yang menukar namanya kepada Sultan Surian Syah selepas memeluk Islam dan akhir pemerintahannya ialah pada tahun 1550 Masihi.
Dikatakan sebagai penolong kanannya dalam pemerintahan ialah bernama Masih. Beliau mengambil tempat di pinggir Bandar. Dari perkataan Bandar, lalu dikenali dengan nama ‘Kerajaan Banjar’ dan lama kelamaan menjadi ‘Bandar Masih’ kerana mengambil sempena nama ‘Masih’ dan kini terkenal dengan nama ‘Banjarmasin’. Tetapi huruf ‘h’ ditukar dengan huruf ‘n’.
Di antara ulama Banjarmasin yang paling terkenal ialah Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari, penyusun kitab Sabilul Muhtadin dan Sheikh Muhammad nafis bin Idris Al-Banjari, penyusun kitab Ad-Durrun Nafis.
Sukadana menerima agama Islam yang dibawa oleh dua mubaligh bernama Sheikh Syamsuddin dan Sheikh Baraun, mubaligh yang membawa surat dari Mekah untuk memberi gelaran Raja Sukadana itu dengan Sultan Aliuddin atau juga digelar dengan nama Sultan Shafiuddin.
Sambas didatangi oleh mubaligh-mubaligh Islam yang paling ramai setelah Portugis menakluk Melaka dan setelah Aceh menakluk Johor. Di antara mubaligh yang sampai sekarang sebagai keramat (disebut keramat Lumbang) bernama Sheikh Abdul Jalil berasal dari Patani.
Ada juga mubaligh berasal dari Filipina, salah seorang keturunannya sebagai ulama besar, iaitu Sheikh Nuruddin kuburnya di Tekarang, Kecamatan Tebas, Sambas (meninggal dunia tahun 1311 Hijrah), Indonesia.
Pengislaman Sulu dilakukan dengan aman, yang datang ke sana adalah seorang mubaligh yang berpengalaman sejak dari Mekah, dan beliau sampai di Sulu pada tahun 1380 Masihi. Nama beliau ialah Syarif Karim Al-Makhdum.
Selepas Syarif Karim Makhdum datang pula Syarif Abu Bakar pada tahun 1450 Masihi. Beliau juga dipercayai seorang mubaligh yang banyak pengalaman dan aktiviti dakwahnya dilakukan sejak dari Melaka, Palembang dan Brunei.
Selain itu yang agung juga namanya dalam pengislaman di Filipina ialah Syarif Kebungsuan. Nama asalnya ialah Syarif Muhammad bin Zainal Abidin yang datang dari negeri Johor. Adapun Syarif Zainal Abidin itu diketahui adalah keturunan Rasulullah yang menyebarkan Islam di Johor.